The little things that I do

truth, lies, and maze of love…. but you’ll be safe here

No title

Kemanakah aku?
Saat pelukannya mengerat dan nafasku sesak
Awan mengaburkan pandangan, sesaat

Terlalu jauh kita berlayar, berombak
Serasa masih di laut ketika kakiku menjejak lumut tanah basah
Mengintip di sela rerumputan, tangisku

Kemanakah aku?
Ketika permohonanmu masuk…meresap di sela-sela darahku
Dan akhirnya nadiku mengikuti detak jantungmu, selamanya…

Maka,
bisa kemanakah aku?

Waktunya

Selenting kabar mungkin tak mengejutkanmu. Sudah seharusnya seperti daun-daun yang terbang siang itu, buah yang dipetik ketika ranumnya mewangi, titik-titik air yang jatuh saat langit tak dapat menahannya lebih lama. Adakah selenting kabar itu tiba-tiba menyadarkanmu akan naluri, yang kau kira telah mati, di sela-sela tawa, alunan yang tidak membuatku siap, dan kau?
Sudah waktunya..

Bukan Malaikat

Yang duduk disini, memejamkan mata, mengatupkan tangan, bukan sedang berdoa. Memohon…akan kelapangan hati. Ketika resah menampakkan diri. Ketika sabar hilang entah kemana. Ketika kasih hendak dipertanyakan.

Yang berdiri disini, merentangkan tangan, menantang angin, bukan karena hendak terbang. Menunggu…redanya amarah. Ketika kesetiaan diuji. Ketika ketulusan enggan kembali. Ketika cinta menguap.

Karena aku bukan malaikat!

Selamat Ulang Tahun

Untuk Selamat Ulang Tahun ada Ibu. Yang mengandung. Yang bertaruh nyawa melahirkan kita. Yang membuat hari Ulang Tahun layak dikenang. Karena Ulang Tahun bukan sekedar tambah usia, namun bukti nyata ketangguhan Ibu

Untuk Selamat Ulang Tahun ada siklus. Ketika kita kembali ke titik nol. Kosong. Putuskan melangkah sesudah itu, atau tidak, semua terserah kita. Sebab memilih, apapun juga, adalah bukti kedewasaan kita. Isi kembali jiwamu dengan harapan dan cinta, jadikan semua lebih berarti.

Untuk Selamat Ulang Tahun ada keajaiban. Keajaiban karena kita masih hidup untuk mengenang jejak-jejak langkah yang lalu, yang mungkin tak pernah terpikir bisa kita lewati. Keajaiban karena misteri yang bertandatanya bisa kita nikmati. Keajaiban karena masih ada cinta yang terurai lewat doa-doa yang dipanjatkan saat Ulang Tahun, baik yang kita ketahui, maupun tidak.

Selamat Ulang Tahun…

Bentukmu

Kucari bentukmu. Pada trapesium-trapesium yang terpola di ubin ruangan lantai delapan. Jangan tertawa ! Pohon-pohon sedang letih berkhayal. Atau tak bisa lagi. Apa bedanya ? Sebab batang tubuhnya terluka oleh gambar-gambar-konyol-wajah-ajakan-nomor-palsu… Dia jadi buta warna. Dan aku terkhianati. Oleh metamorfosis (hampir) sempurna bentukmu. Dari pohon ke ubin ? Mari menahan tawa.

Kurasakan bentukmu. Ketika ubin-ubin bergerak gelisah -masih di ruangan lantai delapan- mencoba mereka-reka lengkung lehermu. Hampir nyata, memang. Karena kurasakan dorongan untuk membelai-mengecup-mencekik lehermu. Jangan menahan air mata jujur yang akhirnya harus mencari jalan keluar lewat pori-pori tubuhmu di dua jam menahan kantuk.

Jadilah dewasa !

Setelah insomnia kau memilih jadi asap yang meracuni perjalanan udara dalam paru-paruku… Dan kutemukan cara lain agar mengerti bentukmu.

Kembang Api Sebelum Tahun Baru

Di malam itu selepas bermimpi
Pohon-pohon menyergapku

Duduk di antara dedaunan. Ketika semua ranting membelit lenganku. Bingung. Mencoba meragu atas nyaman yang hadir. Hatiku masih mencari… Kesalahan apakah yang telah kuperbuat. Hingga pohon-pohon ini marah padaku ? Tidak. Aku hanya bernyanyi ketika kuncup itu mulai tumbuh. Mendongeng untuk buahmu yang ranum. Dan tidur di antara akarmu yang hampir menyatu dengan tanah. Basah.

Untuk cinta ada hal-hal yang tak dapat kuubah. Tidak juga hatiku. Jangan tanyakan kenapa karena aku juga tak tahu mengajukan pertanyaan yang tepat. Selewat puluhan bulan. Mungkin. Maukah kau membawaku pada akar bakau di pantai itu ? Karena akarmu yang hampir menyentuh tanah ini, hampir selalu membawaku pada mimpi buruk. Untuk kembali ke rumah.

Aku belum selesai bercerita bukan ? Tentang ketakutanku atas rahasianya yang dipercayakan padaku. Mengapa aku ? Sudah cukuplah rahasia pohon-pohon ini kucatat dalam hati. Sementara daun-daun gugur mengajarkanku berhitung. Sampai kapan kita harus menunggu tunas baru itu muncul ? Sementara semalam dua menambah lagi ketakutanku.

Lenganku cukup kuat untuk memelukmu, menenangkanmu, sementara rasa takut ini membuatku menggigil. Segeralah bawa aku dari sini. Kau tahu siapa sebenarnya yang aku cari. Atau apa yang sebenarnya harus kutemui. Matahari mulai redup…

Senja datang kembali…
Dan di atas pasir ini kita berdua duduk
Mengumpulkan kembang api sebelum tahun baru

Jalan Pulang

Selepas hujan selalu senang
Kilau-kilau pada jalan yang basah mengalunkan cerita
Dan pada malam itu, lampu jalanan menyorot kisah hidup yang hampir terlupa
Sedikit angin dan aroma hadir di memoriku, basah
Lalu sunyi lewat di antara rumpun melati
Betapa aku ingin terjaga
Hujan hadir pada jalan pulangku

Ruang Tamu

Mari masuk
dan duduk

Bebaskan aku dari khayal-khayal yang menggantung di langit-langit. Mengganggu. Jadi biarkan aku bercerita. Dengarkah kau ? Sebab aku ingin tahu jalan pikiran lelaki dan pria. Katamu mereka adalah makhluk yang sama. Dan tertawa kau, sementara hatimu juga berharap. Coba jelaskan hal yang tidak bisa kupahami sampai kini. Kenapa mereka lari dan kau mempersilahkan aku masuk ke sini ?

Mari minum
seteguk untuk biarkan lidah kita mengecap sesuatu

Bertahun yang kita lewati menghasilkan memori nama-nama usang. Mengerang aku mendengar nama-nama itu kau sebut. Sebab terperangkap kita di jalinan kusut. Persahabatan. Atau takluk pada perasaan. Katamu cinta tidak bisa mngalir lewat sentuhan tangan. Mungkin hanya pesona. Ah, memang hanya pesona ketika aku menyerah malam itu. Dan di pagi hari, lain episode kita buat.

Mari menghela nafas
sejenak

Di atas kertas kita buat rencana, untuk singkirkan jebakan-jebakan konyol. Tentukan pilihan Sanggupkah kita? … Setelah satu, dua, tiga, empat, aku kembali padamu. Dan kamu kembali padaku. Bukankah itu konyol? Sejatinya bukan itu yang kita inginkan. menambah satu lagi pertanyaan. Dan pernyataan buat mereka semua.

Mari menghitung waktu
detik-detik

Sempurna itu tiada. Juga tidak pada kecupan di pipi. Pada reuni yang kita tunggu. Memang benar katamu, mereka adalah makhluk yang sama. Mengira bisa mengobati luka di hatiku. Seperti juga luka di hatimu. Tak bisa sembuh bukan ? Jawabannya ada pada waktu, yang berjalan, tak cepat, tak lambat. Hanya seperti biasa. Hati kita bisa pecah. Tapi waktu tidak.

Mari ambilkan lagi minum
buatku

Pada siklus ini kita berputar. Tidak usah bertanya, kapan ? Karena doaku dan doamu akan terjawab. Di sini. Ada suara-suara di latar percakapan kita. Tidak. Aku masih ingin berada di ruang tamu ini…

Pada Empatbelas

Dua gelas susu
Aku tidak bisa berlama-lama
Sebab beratnya kepala menyiksa
Dan tujuan semula terlupakan,
keinginan terabaikan
Jadi, dimana harus kucari,
rumah yang dari jendelanya bisa kulihat pohon itu,
sementara kenangan tergores di bangku depan ?

Tidak ada cangkir teh
Aku tidak sempat berbasa-basi
Pilihan itu memang menyakitkan
Tapi yang perlu kulakukan hanyalah jujur
Pada hati yang hampir lelah berseru
Pada ego yang hampir kutaklukkan
di menit-menit lalu…

Hampir Tiba

Dalam jenuh yang membosankan !

Mari mencari bangsa liliput diantara lumut hijau yang tumbuh di lantai kamar mandi. Basah. Kesana aku hendak berdiam karena panas menyiksa pori-pori kulitku. Sambil duduk mendengar dongeng siang dan menunggu kantuk datang.

Mari menghitung ilalang hijau di pinggir suangai yang airnya kering karena kemarau. Kerontang. Anak-anak itu duduk menunggu hujan yang kabarnya akan datang sore ini. Berharap ada berudu ikut jatuh di anatara tetes hujan, atau daun, atau kelereng, atau apa saja yang bisa mereka rebutkan. Karena awan terlalu jauh untuk digapai.

Mari mengecap air asin yang memecah sementara buih-buih berkejaran. Biru. Nyayian yang dibisikkan angin di sela-sela daun coklat, sudah hapalkah aku ? Sedangkan pasir punya ceritanya sendiri…

Mari menari seirama denyut nadi. Pelan. Karena langkahmu dan langkahku sempat bertemu dan kembali menjauh seirama denyut itu…

Mari menebak-nebak arti perasaan ini. Cinta. Tidak bisa dituju. Tidak bisa ditolak. Biarkan berjalan bersamamu. Dan disanalah aku hampir tiba.

Older entries »