The little things that I do
truth, lies, and maze of love…. but you’ll be safe hereSelamanya itu
Apakah selamanya itu
ada di hatiku dan hatimu
yang terasa ketika pedihnya cinta merambat pelan pada aliran darahku
Apakah selamanya itu
ada di tempatmu berada kini
dimana tiada bunga bisa kuletakkan atas kenangan yang mendewasakanku
Apakah selamanya itu
ada pada jawaban pertanyaan
jutaan mengapa yang mengambang di atas tangisanku tentang kita
Apakah selamanya itu
ada pada ujung laut di senja?
*dedicated to beloved father
(inspired from What Part of Forever by Cee Lo Green)
Ode 3
Pantai ini melengkapi mimpiku
Ketika pasirnya masuk di sela kuku jemari, kami hanya bisa memandang yang akan pergi
Sesederhana permintaanmu…
Matahari menggantung di barat, hendak menutup hari dan melengkapi tangis
Namun lembayung akan memunculkan senyummu
Dan kesanalah angin akan membawa permintaan maaf yang belum terucap
Ode 2
Kadangkala terasa seperti ini. Hujan namun panas.
Atau tangis dibalik kelegaan, namun bukan benci
Lewat tengah hari, setelah subuh yang terasa beranjak begitu lama.
Pada kenyataan kami harus berdiri.
Tenangkah engkau? Begitu tanya hati kami yang tak terjawab olehmu.
Tiba-tiba kami ingin mengulang semua; menulis semua kata, menyanyikan semua tawa, merenungkan semua amarah, merekam semua diam.
Benarkah secepat ini? Sedang kami tidak ingin pergi…
Ode 1
Tulang pada kaki itu terasa pada tanganku
Lalu bercerita…
Percayakah engkau padaku? setelah bertahun benci yang tersamar acuh
Lalu berdoa…
Setelah pasrah terucap dalam nada-nada yang tercekat di tenggorokan
Pergiku, mengapa tidak kau tunda?
Dua Lelaki
[08.30 - 22.30] Berjabat tangan, apa kabar? Hidupmu jauh dari hidupku. Bercerita…pekerjaan, keluarga, kekasih, cita-cita. Maafkan aku karena pernah memandangmu sebelah mata. Dan menyamakanmu dengan mereka yang lain. Sudah cukup kau buktikan itu…
[23.00 - 02.00] Menyapa, apa kabar? Hidupmu jauh dari hidupku. Bercerita…pekerjaan, keluarga, kekasih, cita-cita. Tertawa dan berjanji. Hening. Lalu keluarlah pengakuanmu. Kukira kau selama ini tegar. Tapi memang tidak ada yang sempurna, begitu juga dirimu. Aku berjanji membantumu berjuang, sejauh kau mau berusaha mendapatkannya…
*suatu masa pada 2009*
Meniti Tangga
Hanya 7
Meraih layang-layang di ujung dahan
Dan pada 7 tampak buah mangga ranum
Terulur tangan dan terlupa layang-layang
Cukup 18
Untuk merapatkan genteng dan menyambut hujan
Lalu pada 18 terlihat rumah tetangga, penuh terisi namun tiada penghuni
Maka selamat tinggal genteng yang sabar menunggu
Perlu 29
Demi selangkah lebih maju dari pesaing
Jika pada 29 terlihat kepalanya muncul, sudah siap kaki untuk menendang
Disini sudah 50
Diamlah sejenak untuk biasakan matamu bersyukur pada pemandangan di atas sini
Lalu mulailah ke 49
Batas api
Kuingin hujan
Sementara pasir-pasir bergerak menjauh dari panas yang meronta
Mencari ruang di sela dedaunan dan menghanguskan mereka
Batu membara meneriakkan nyanyian malam
Menjaga mereka tetap merah
Sementara bunga menunduk layu
Sebab tak ada harapan untuk buah pada musimnya
Ranting menyerah pada tanah
Kuberdoa hujan
Biru Ungu
Biru dan Ungumu
di antara awan-awan putih
kakimu terpaut…
Bantu aku melepaskan tali khayalan
pada imaji yang selalu membuat mataku basah
pada harap yang selalu memuat tanyaku menyeruak
pada bunga-bunga itu
Biru dan Ungumu
di antara awan-awan berubah kelabu
jemarimu melambai…
Bunda
kudengar itu…
pun gelisah aku
pada cintamu kami dapat belajar
pada setiamu kami berkaca untuk dewasa
satu langkah ini Bunda..
percayalah kami tetap butuh pelukanmu
Sudut
Satu hari satu kata
cukup untuk berbelok menjauh dan kembali pada sudut itu
dekatmu, kau tahu ada aku
Satu hari satu hati
harusnya begitu, karena ada hati yang enggan kita sakiti
meskipun mungkin ada mimpi yang bersayap
sisimu, kau tahu selalu ada aku
Satu hari satu harapan
mari berdoa
bukan hanya pada malam ini
tak salah jika kita terus berharap pada masa depan,
bukan pada masa lalu yang telah tergores
di sudut itu, ku temani kau