The little things that I do
truth, lies, and maze of love…. but you’ll be safe hereArchive for June, 2008
Cemara di Balik Atap
Dia melihat ribuan layang-layang di angkasa
Yang tegar
Yang kalah
Yang jatuh
Yang tercabik angin
Dia mendengar tangis bayi
Marah atau bertanya pada Ibu, Nak ?
Seba Ibu tak mengerti bahasamu
Sebab Ibu sibuk mencerna bahasa mereka
Dia melihat got hitam, dan berpikir
Apa gerangan yang tersimpan di balik air keruh tak mengalir
Yang membuatnya tak ingin menebak-nebak
Dia merasakan angin panas berkumpul
Di sela daun-daun hijau berdebu
Dan berusaha menikmati cinta
Yang masih tinggal disini
Oktober
Mari mulai berhitung
langkah kaki kita bersama
Karena enam berganti delapan
Atau delapan digantikan enam
Dan ternyata masih ada alasan-alasan yang tak bisa diuraikan
Jika pada suatu titik
Kita mengucapkan selamat tinggal
Dalam hati saja…
Yang bertahun telah lewat
Yang pernah kita cerna bersama
Yang tidak pada keduanya
Yang tidak pada keduanya
Silent
(1)
Lewat boulevard berpohon tinggi
Dan di antaranya kita berpandang sama
Yang mana lebih manis ?
Yang mana akhirnya tersakiti ?
Yang berhak, tidak mendapatkan apa-apa
(2)
Lewat bibir-bibir mereka
Aku membaca pikiranmu
Pada cuaca lembab panas kemudia hujan
Belum menjawab sakit menahun
Menimbulkan pertanyaan kedua
kapan aku berhak mendapatkannya ?
(3)
Lewat suluran ribuan kilometer
Mari mengenang masa lalu
Mari bicara masa depan
Mari mengungkap luka-luka tersembunyi
Dari jauh kubayangkan senyummu
Dan melepaskan hakku untuk merebut hatimu
(4)
Lewat semilir wangi, aku tercekat
Dan naifnya, di gelisah perasaan kita terperangkap
Yang ini, yang itu membuatku malas berpikir
Maka silahkan mulai dari awal lagi
Sebab yang berhak, saat ini, harus mengalah