The little things that I do

truth, lies, and maze of love…. but you’ll be safe here

Archive for September, 2008

Ruang Tamu

Mari masuk
dan duduk

Bebaskan aku dari khayal-khayal yang menggantung di langit-langit. Mengganggu. Jadi biarkan aku bercerita. Dengarkah kau ? Sebab aku ingin tahu jalan pikiran lelaki dan pria. Katamu mereka adalah makhluk yang sama. Dan tertawa kau, sementara hatimu juga berharap. Coba jelaskan hal yang tidak bisa kupahami sampai kini. Kenapa mereka lari dan kau mempersilahkan aku masuk ke sini ?

Mari minum
seteguk untuk biarkan lidah kita mengecap sesuatu

Bertahun yang kita lewati menghasilkan memori nama-nama usang. Mengerang aku mendengar nama-nama itu kau sebut. Sebab terperangkap kita di jalinan kusut. Persahabatan. Atau takluk pada perasaan. Katamu cinta tidak bisa mngalir lewat sentuhan tangan. Mungkin hanya pesona. Ah, memang hanya pesona ketika aku menyerah malam itu. Dan di pagi hari, lain episode kita buat.

Mari menghela nafas
sejenak

Di atas kertas kita buat rencana, untuk singkirkan jebakan-jebakan konyol. Tentukan pilihan Sanggupkah kita? … Setelah satu, dua, tiga, empat, aku kembali padamu. Dan kamu kembali padaku. Bukankah itu konyol? Sejatinya bukan itu yang kita inginkan. menambah satu lagi pertanyaan. Dan pernyataan buat mereka semua.

Mari menghitung waktu
detik-detik

Sempurna itu tiada. Juga tidak pada kecupan di pipi. Pada reuni yang kita tunggu. Memang benar katamu, mereka adalah makhluk yang sama. Mengira bisa mengobati luka di hatiku. Seperti juga luka di hatimu. Tak bisa sembuh bukan ? Jawabannya ada pada waktu, yang berjalan, tak cepat, tak lambat. Hanya seperti biasa. Hati kita bisa pecah. Tapi waktu tidak.

Mari ambilkan lagi minum
buatku

Pada siklus ini kita berputar. Tidak usah bertanya, kapan ? Karena doaku dan doamu akan terjawab. Di sini. Ada suara-suara di latar percakapan kita. Tidak. Aku masih ingin berada di ruang tamu ini…

Pada Empatbelas

Dua gelas susu
Aku tidak bisa berlama-lama
Sebab beratnya kepala menyiksa
Dan tujuan semula terlupakan,
keinginan terabaikan
Jadi, dimana harus kucari,
rumah yang dari jendelanya bisa kulihat pohon itu,
sementara kenangan tergores di bangku depan ?

Tidak ada cangkir teh
Aku tidak sempat berbasa-basi
Pilihan itu memang menyakitkan
Tapi yang perlu kulakukan hanyalah jujur
Pada hati yang hampir lelah berseru
Pada ego yang hampir kutaklukkan
di menit-menit lalu…