Kucari bentukmu. Pada trapesium-trapesium yang terpola di ubin ruangan lantai delapan. Jangan tertawa ! Pohon-pohon sedang letih berkhayal. Atau tak bisa lagi. Apa bedanya ? Sebab batang tubuhnya terluka oleh gambar-gambar-konyol-wajah-ajakan-nomor-palsu… Dia jadi buta warna. Dan aku terkhianati. Oleh metamorfosis (hampir) sempurna bentukmu. Dari pohon ke ubin ? Mari menahan tawa.
Kurasakan bentukmu. Ketika ubin-ubin bergerak gelisah -masih di ruangan lantai delapan- mencoba mereka-reka lengkung lehermu. Hampir nyata, memang. Karena kurasakan dorongan untuk membelai-mengecup-mencekik lehermu. Jangan menahan air mata jujur yang akhirnya harus mencari jalan keluar lewat pori-pori tubuhmu di dua jam menahan kantuk.
Jadilah dewasa !
Setelah insomnia kau memilih jadi asap yang meracuni perjalanan udara dalam paru-paruku… Dan kutemukan cara lain agar mengerti bentukmu.