The little things that I do

truth, lies, and maze of love…. but you’ll be safe here

Archive for Reflection

Silent

(1)
Lewat boulevard berpohon tinggi
Dan di antaranya kita berpandang sama
Yang mana lebih manis ?
Yang mana akhirnya tersakiti ?
Yang berhak, tidak mendapatkan apa-apa

(2)
Lewat bibir-bibir mereka
Aku membaca pikiranmu
Pada cuaca lembab panas kemudia hujan
Belum menjawab sakit menahun
Menimbulkan pertanyaan kedua
kapan aku berhak mendapatkannya ?

(3)
Lewat suluran ribuan kilometer
Mari mengenang masa lalu
Mari bicara masa depan
Mari mengungkap luka-luka tersembunyi
Dari jauh kubayangkan senyummu
Dan melepaskan hakku untuk merebut hatimu

(4)
Lewat semilir wangi, aku tercekat
Dan naifnya, di gelisah perasaan kita terperangkap
Yang ini, yang itu membuatku malas berpikir
Maka silahkan mulai dari awal lagi
Sebab yang berhak, saat ini, harus mengalah

Pemimpi

Tuhan tidak pernah membiarkanmu bermimpi sendirian

Menjejak kubus-kubus tak bernama
Asing terperangkap di dalam gelembung-gelembung yang terpantul oleh silau cahaya

dan apalah hakku untuk menuntut penjelasan di dalam keterbatasan menerjemahkan ilusi ?

Pada potongan kisah, semua pembelajaran dimulai
Pada potongan lain, terhampar jawaban

Cahaya

Dari atas sini
Memandang titik-titik cahaya
Terang…

Padanya ada harap
Akan kenangan
Akan masa depan
Akan cinta
Akan kita

Kemana tahun-tahun berlalu
Dan kisah-kisah kita sesali
Karena perubahan adalah pilihan

Dari atas sini
Memandang titik-titik cahaya
Lenyap…

*langit Jakarta, 19 November 2007*

Tentangmu [Tentangku]

Baiklah. Pada satu titik itu aku mencoba bertahan.
Walau semua sudut kota ini tertawa padaku.
Aku bisa mengatasinya dan waktu membantuku menemuimu.
Ketika siang panas di ujung minggu membuat kita bertahan dengan idealisme. Atau konsisten. Atau apalah itu.
Aku hanya bisa tersenyum dan bertanya padamu pertanyaan yang kini bisa kau jawab.
Kau pada akhirnya melakukan ini bukan ?

Baiklah. Aku mencoba mengikuti permainanmu.
Yang pada awalnya tidak pernah kuminta.
Tidak pernah kuminta.
Pada satu asa itu aku mencoba bertahan. Demi percaya pada keajaiban (atau mulutmu ?)
Dan akhirnya kutemui keajaiban hatimu, yang bisa berbelok dan menikamku dari belakang.
Yang pertama, kedua, dan terakhir, cukuplah semua permainan ini kuikuti.
Aku menyerah dan terimakasih untuk kedangkalan yang tidak kusangka.

Baiklah. Mungkin kau bisa sejenak diam dan tidak tertawa ketika aku jatuh cinta (lagi).
Dan jangan terkejut pada akhirnya…
Hati ini buatku bertahan.
Kau disana, aku tahu itu.
Mengeluh atas idealisme palsu. Atau memang bukan palsu. Jadi siapa yang awalnya mau ?
Dan jatuh iba aku padamu…

Baiklah. Memang harus ku lari ke pantai itu.
Merasakan asinnya udara yang kuhirup,
dan menikmati angin yang menyentuh kulitku.
Dan bersyukur…
Bahwa tidak ada dirimu disini.

*7 September 2007*

Nama itu [27th August 2007]

Yang pertama
Lugu menyapa cinta
Tulus menjaga
Menangis dan tertawa, benarkah kita ?

Kedua adalah
Asa tak juga nyata
Sayang…
Dimana lagu untuk kita ?

Kembali pada nama itu
Memori berwujud
Mencoba mencari makna
Diantara lautan luas
Akankah kita ?

Refleksi [16th July 2007]

Pada kenyataan kehidupan
Yang tak sama dengan ilusi
Karena sempurna adalah bayangan yang tidak dapat diterjemahkan

Bahkan ketika menjadi
Seseorang yang dicintai
Tak pernah membuatmu puas dan menghela nafas
Warna biru atau kelabu
Adakah bedanya buatmu ?

Rasakan pelukan-pelukan di sekitarmu
Dan percayalah
Kau tinggal menunggu saat yang indah
Untuk menerima pelukan yang tepat